Rabu, 21 April 2021

Nama:Cholik Hermawan

Kelas:PAI 4A

Nim:11901038

Makul:MAGANG 1

Pertemuan:2


Sistem Evaluasi

        Evaluasi adalah penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Jadi, adanya evaluasi tersebut merupakan bentuk dari sebuah keberhasilan yang mana tujuannya telah ditetapkan dalam program tersebut. Adapun tujuan dari evaluasi salah satunya yaitu untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam kurun waktu proses blajar tertentu, untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar.

         Ada beberapa golongan fungsi dalam bentuk evaluasi ini diantaranya menurut wuradji fungsi evaluasi dibagi menjadi tiga, yaitu: fungsi evaluasi hasil belajar untuk kepentingan murid, fungsil evaluasi hasil belajar untuk kepentingan pendidik. Dan ragam-ragam evaluasi itu diantaranya pre-test dan post-test, evaluasi prasyarat, evaluasi diagnostik, evaluasi formatif, evaluasi sumatif, uan/un.

         Dalam bab ini saya akan memberikan penjelasan tentang materi-materi yang kami sampaikan diatas baik dalam segi pengertian ataupun dalam hal yang lainnya. Evaluasi secara bahasa diambil dari kata evaluation yang berarti penilaian.  Secara istilah evaluasi berarti penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Dalam pengertian lain evaluasi mempunyai padanan kata yaitu assessment di mana menurut Tardif (1989) evaluasi berarti proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai dengan kriteria yang telah ditentukan.

Tujuan evaluasi adalah sebagai berikut:

1.Untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam kurun waktu proses belajar tertentu.

2.Untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang siswa dalam kelompok kelasnya.

3.Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar.

4.Untuk mengetahui segala upaya siswa dalam mendayagunakan kapasitas kognitifnya untuk keperluan belajar.

5. Untuk mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode mengejar yang telah digunakan dalam proses kegiatan belajar mengajar.

6. Menurut UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pasal 38 (1) evaluasi bertujuan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.

Adapun fungsi dari evaluasi belajar, antara lain:

1.Fungsi administratif untuk penyusunan daftar nilai dan pengisian buku rapor.

2.Fungsi promosi untuk menetapkan kenaikan dan kelulusan.

3.Fungsi diagnostik untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa dan merencanakan program remedial teaching.

4.Sumber data BK untuk memasok data siswa tertentu yang memerlukan bimbingan dan konseling.

5.Bahan pertimbangan pengembangan pada masa yang akan datang meliputi pengembangan kurikulum, metode, dan alat-alat PMB.

Adapun Wuradji (1974) mengemukakan fungsi evaluasi ke dalam dua golongan yaitu:

1.Fungsi evaluasi hasil belajar untuk kepentingan murid

a. Untuk mengetahui kemajuan belajar

b.Dapat dipergunakan sebagai dorongan (motivasi) belajar

c. Untuk memberikan pengalaman dalam belajar.

2.Fungsi evaluasi hasil belajar untuk kepentingan pendidik

a.Untuk menyeleksi murid yang selanjutnya berguna untuk meramalkan keberhasilan studi berikutnya.

b. Untuk mengetahui sebab-sebab kesulitan belajar murid, yang selanjutnya berguna untuk memberikan bimbingan belajar kepada murid.

c.  Untuk pedoman mengajar

d. Untuk mengetahui ketepatan metode mengaiar.

e.  Untuk menempatkan murid dalam kelas (ranking, penjurusan, kelompok belajar dan lainnya).

C.    Ragam Evaluasi

1.  Pre-test dan Post-test

       Pre-test merupakan kegiatan evaluasi yang dilakukan sebelum memulai proses pembelajaran yang tujuannya adalah mengidentifikasi pengetahuan siswa terhadap materi yang akan disajikan.

        Post-test merupakan kegiatan evaluasi yang dilakukan guru pada akhir penyajian materi. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui taraf penguasaan siswa terhadap materi yang telah disajikan.

2.      Evaluasi Prasyarat

       Evaluasi ini sangat mirip dengan pre-test. Tujuannya adalah untuk mengindentifikasi penguasaan siswa terhadap materi lama yang mendasari materi baru yang akan diajarkan.

3.      Evaluasi Diagnostik

      Evaluasi ini dilakukan setelah selesai penyajian sebuah satuan pelajaran dengan tujuan mengidentifikasi bagian-bagian tertentu yang belum dikuasai siswa.

4.      Evaluasi Formatif

       Evaluasi jenis ini kurang lebih sama dengan ulangan yang dilakukan pada setiap akhir penyajian satuan pelajaran atau modul. Tujuannya adalah untuk memperoleh umpan balik yang mirip dengan evaluasi diagnostik. Hasil diagnosis kesulitan belajar tersebut digunakan sebagai bahan pertimbangan rekayasa pengajaran remedial.

5.      Evaluasi Sumatif

      Ragam penialaian ini kurang lebih sama dengan ulangan umum yang dilakukan untuk mengukur kinerja akademik atau prestasi belajar siswa pada akhir periode pelaksanaan pengajaran.

6.      UAN/UN

       UN (Ujian Nasional) merupakan kegiatanpengukuran capaian kompetensi lulusan pada mata pelajaran tertentusecara nasional dengan mengacu pada standar kompetensi lulusan. Evaluasi ini pada prinsipnya sama dengan evaluasi sumatif dalam arti sebagai alat penentu kenaikan status siswa.

D.    Ragam Alat Evaluasi

Secara umum, alat evaluasi terdiri atas dua macam bentuk, yaitu bentuk objektif dan bentuk subjektif.

1.      Bentuk Objektif

       Bentuk semacam ini bisa juga dikatakan dengan tes objektif, yakni tes yang dapat diberi skor atau nilai secara lugas menurut pedoman yang ditentukan sebelumnya. Ada lima macam tes yang termasuk dalam evaluasi ini, antara lain:

a.       Tes benar salah

b.      Tes pilihan ganda

c.       Tes pencocokan (menjodohkan)

d.      Tes isian

2.      Bentuk Subjektif

        Alat evaluasi subjektif adalah alat ukur prestasi belajar yang jawabannya tidak ternilai dengan skor atau angka pasti. Instrumen evaluasi mengambil bentuk essay examination, yakni siswa diharuskan menjawab setiap pertanyaan dengan cara menguraikan atau dalam bentuk karangan bebas.

E.     Evaluasi Prestasi Kognitif, Afektif, dan Psikomotor

1.      Evaluasi Prestasi Kognitif

       Evaluasi jenis ini dapat dilakukan dengan berbagai cara dari tes lisan, tulis, maupun perbuatan. Khusus untuk mengukur kemampuan analisis dan sintesis siswa, guru dapat menggunakan tes esai. Karena tes ini adalah satu-satunya ragam instrumen evaluasi yang paling tepat untuk mengevaluasi dua jenis kemampuan akal siswa di atas.

2.      Evaluasi Prestasi Afektif

      Evaluasi jenis ini dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasi kecenderungan sikap orang. Salah satu bentuk tes ranah rasa yang populer adalah “Skala Likert”. Bentuk skala ini menampung pendapatyang mencerminkan sikap  sangat setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan dangat tidak setuju.

      Hal yang perlu diingat oleh guru yang hendak menggunakan skala sikap ialah bahwa dalam evaluasi ranah rasa yang dicari bukan benar dan salah, melainkan sikap atau kecenderungan setuju atau tidak setuju.

3.      Evaluasi Prestasi Psikomotor

      Cara yang dipandang tepat untuk mengevaluasi keberhasilan belajar yang berdimensi ranah psikomotor adalah observasi. Observasi dalam hal ini dapat diartikan sebagai jenis tes mengenai tingkah laku, atau fenomena lain, dengan pengamatan langsung.

F. Prinsip-prinsip umum evaluasi

      Untuk memperoleh hasil evaluasi yang lebih baik,maka kegiatan evaluasi harus betitik tolak dari prinsip-prinsip umum sebagai berikut.

1.  Kontinuitas

       Evaluasi tidak boleh dilakukan dengan cara insidental karena pembelajaran itu sendiri adalah suatu proses yang kontinu. Oleh sebab itu ,evaluasi pun harus dilakukan secara kontinu.hasilevaluasi yang diperoleh pada suatu waktu harus senantiasa dihubungan dengan hasil-hasil pada waktu sebelumnya,sehingga dapat diperoleh gambaran yang jelas dan berarti tentang perkembangan peserta didik. Perkembangan belajar peserta didik tidak dapat dilihat dari dimensi produk saja,tetapi juga dimensi proses bahkan dari dimensi input.

2. Komprehensif

       Dalam melakukan evaluasi terhadap suatu objek,guru harus mengambil seluruh objek itu sebagai bahan evaluasi. Misalnya, jika objek evaluasi itu adalah peserta didik, maka seluruh aspek kepribadian peserta didik itu harus dievaluasi, baik yang menyangkut kognitif, afektif, maupun psikomotor, begitu juga dengan objek-objek evaluasi yang lain.

3. Adil dan objektif

        Dalam melaksanakan evaluasi, guru harus berlaku adil tanpa pilih kasih. Kata “adil” dan “objektif” memang mudah diucapkan, tetapi sulit dilaksanakan. Meskipun demikian, kewajiban manusia adalah harus berikhtiar. Semua peserta didik harus diberlakukan sama tanpa “pandang bulu“. Guru juga hendaknya bertindak secara objektif , apa  adanya sesuai dengan kemampuan peserta didik. Oleh sebab itu, sikap like and dislike, perasaan, keinginan, dan prasangka yang bersifat negative harus dijauhkan. Evaluasi harus berdasarkan atas kenyataan (data dan fakta) yang sebenarnya, bukan hasilmanipulasi atau rekayasa.

4. Kooperatif

       Dalam kegiatan evaluasi guru hendaknya bekerja ssama dengan semua pihak,seperti orang tua peserta didik,sesame guru,kepala sekolah, termasuk dengan peserta didikitu sendiri. Hal ini dimaksudkan agar semua pihak merasa puas dengan hasil evalusi, dan pihak-pihak tersebut merasa dihargai.

5. Praktis

       Praktis mengandung arti mudah digunakan, baik oleh guru itu sendiri yang menyusun alat evaluasi maupun orang lain yang akan menggunakan alat tersebut. Untuk itu harus diperhatikan bahasa dan petunjuk mengerjakan soal.

G. Jenis-jenis evaluasi pembelajaran

      Berikut ini beberapa bentuk evaluasi pembelajaran yang lazim dilakukan dalam kegiatan pembelajaran;

1. Evaluasi Formatif

       Evaluasi formatif seringkali diartikan sebagai kegiatan evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui sejauhmana suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Winkel menyatakan bahwa yang dimaksud evaluasi formatif  adalah penggunaan tes-tes selama proses pembelajaran yang masih berlangsung, agar siswa dan guru memperoleh informasi (feedback) mengenai kemajuan yang telah dicapai.

         Dari hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran siapa saja yang telah berhasil dan siapa yang dianggap belum berhasil untuk selanjutnya diambil tindakan-tindakan yang tepat. Tindak lanjut dari evaluasi ini adalah bagi para siswa yang belum berhasil, anak akan diberikan remidial. Sementara bagi siswa yang telah berhasil akan melanjutkan pada topik berikutnya, bahkan bagi mereka yang memiliki kemampuan yang lebih akan diberikan pengayaan, sehingga memungkinkan untuk mencapai standar yang lebih tinggi.

2.  Evaluasi Sumatif

        Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang di dalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya. Winkell mendefinisikan evaluasi sumatif sebagai penggunaan tes-tes pada akhir suatu periode pengajaran tertentu, yang meliputi beberapa atau semua unit pelajaran yang diajarkan dalam satu semester, bahkan setelah selesai pembahasan suatu bidang studi.

3. Diagnotik

        Evaluasi diagnotik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada siswa, sehingga dapat diberikan  perlakuan yang tepat. Evaluasi diagnotik dapat dilakukan dalam beberapa tahapan, baik pada tahap awal, selama proses, maupun akhir pembelajaran.








Kamis, 15 April 2021

Startegi Pembelajaran

Nama :Cholik Hermawan
Nim : 11901038
Kelas : PAI 4A
Matkul : Magang 1
Dosen Pengampu : Farninda Aditya, M.Pd.

     Alhamdulillah Senang bisa menulis lagi Sudah Lama Vakum Dari Blog ini. Kali ini saya ingin menyampaikan tulisan mengenai Strategi Pembelajaran. Semoga Bermanfaat mohon maaf apabila ada kekeliruan dalam tulisan ini. Guru yang  profesional dituntut untuk dapat menampilkan keahliannya di depan kelas. Salah satu keahlian tersebut, yaitu kemampuan menyampaikan pelajaran kepada siswa. Untuk dapat menyampaikan Pelajaran dengan efektif dan efisien, guru perlu mengenal berbagai jenis.

   Strategi pembelajaran sehingga dapat memilih strategi manakah yang paling 
tepat untuk mengajarkan suatu bidang studi tertentu. Secara berturut-turut, Anda akan mempelajari konsep strategi pembelajaran, meliputi pengertian pendekatan, strategi, metode, teknik pembelajaran, dan teori yang melandasi, serta berbagai jenis pendekatan dalam strategi pembelajaran.
Dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran, setiap guru dituntut untuk memahami benar strategi pembelajaran yang akan diterapkannya.Sehubungan dengan hal tersebut, seorang guru perlu memikirkan strategi pembelajaran yang akan digunakannya. Pemilihan strategi pembelajaran yang tepat berdampak pada tingkat penguasaan atau prestasi belajar siswa.

     Setelah Anda mempelajari materi dalam Modul 1 ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan konsep strategi pembelajaran serta jenis-jenisnya. 
Secara lebih terperinci, Anda diharapkan mampu:

1. menjelaskan perbedaan antara pendekatan, strategi, metode, dan teknik 
pembelajaran;

2. mengidentifikasi teori-teori yang melandasi strategi pembelajaran;

3. mengidentifikasi berbagai jenis strategi pembelajaran berdasarkan 
pendekatan tertentu.

      Suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Maksudnya, pada dasarnya strategi masih bersifat konseptual mengenai keputusan yang akan diambil dalam pelaksanaan pembelajaran. Secara umum, strategi dapat diartikan sebagai suatu garis-garis besar untuk bertidak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. 

    Dalam dunia pendidikan, strategi dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi mengenai rangkain kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dari pengertian diatas, bisa disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu rencana atau tindakan (rangkaian kegiatan) yang di dalamnya termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran. Strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan sehingga penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan.Akan tetapi sebelumnya, perlu dirumuskan suatu tujuan yang jelas yang bisa diukur keberhasilannya.

A. Strategi Pembelajaran

     Kita Sering dengar nama nya Strategi pembelajaran, Strategi Pembelajaran merupakan salah satu bahan mata kuliah untuk mahasiswa calon guru. Dikatakan hal itu karena dipandaang sangat penting bagi mahasiswa yang menjalaninya sebagai modal keilmuan dan ketrampilan dalam melaksanakan proses pembelajaran saat di kelas. Nah, pasti berhasil atau tidaknya pencapaian belajar anak didik amat tergantung dengan proses pembelajaran yang dilakukan antara anak didik dengan guru. Maka dari itu, perlu adanya strategi dapat membantu proses kelancaran belajar.

      Mengulas dari buku shihabuddin, bahwa strategi adalah cara atau usaha yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan. Istilah strategi juga terdapat dalam beberapa konteks dengan makna yang berbeda. Sama seperti memiliki kemiripan dengan pendekatan, model, metode, ataupu  teknik pembelajaran. Dikutip pula dari beberapa para ahli, seperti halnya menurut Romiszowski mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan rancangan dan jalan kegiatan yang dilakukan untuk memilih metode pembelajaran. Sejalan dengan definisi tersebut, Worrel dan Stillwel juga mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah penerapan perencanaan sebuah metode pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran.

     Ada pula, strategi pembelajaran menurut Kemp adalah kegiatan belajar mengajar, ini berarti apa yang harus dikerjakan sebagai tenaga pendidik dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai sacara efektif dan efisien. Dikemukakan juga oleh Suparman bahwa strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari alur kegiatan dan cara pengkondisian materi pelajaran, anak didik, media atau peralatan, bahan dan waktu yang digunakan ketika dalam proses pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan.  Pada strategi pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam yaitu:

1. Strategi Pembelajaran Langsung (direct instruction)

   Strategi Pembelajaran Langsung (DI) adalah pembelajaran yang menekan kepada proses penyamapaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Siswa tidak situntut untuk menemukan materi itu. Strategi pembelajaran Ini adalah jenis strategi pembelajaran dengan kadar memiliki pusat kepada guru yang paling tinggi, strategi ini memiliki banyak kelemahan karena siswa banyak bergantung pada guru sehingga menjadikan siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran. Meski demikian strategi ini seringkali dipakai. Contoh strategi pembelajaran langsung antara lain: Suatu ceramah, pertanyaan dedaktik, pengajaran eksplisit dan latihan, dan juga demonstrasi.
   

2. Strategi Pembelajaran Tidak Langsung (indirect instruction)

        Pada strategi ini umumnya diutamakan pada peserta didik walaupun strategi pembelajaran langsung dan tidak langsung dapat saling bergantung satu sama lain. Dalam strategi pembelajaran ini peranan guru yang biasanya disebut sebagai seorang penceramah bergeser menjadi fasilitator. Mengapa dikatakan seperti itu? Karena sebagai seorang guru harus dapat mengelola lingkungan belajar ketika di dalam kelas dan memberikan kesempatan kepada anak didik untuk ikut terlibat.Menurut Arends “Pembelajaran langsung adalah sebuah model pembelajaran yang berpusat pada guru. Sedangkan pembelajaran tidak langsung merupakan pembelajran yang dilakukan dengan cara bertahap atau langkah demi langkah” (Buku satu).

3. Strategi Pembelajaran Interaktif 

    Dalam strategi pembelajaran interaktif lebih menekankan pada diskusi dan sharing antara guru dengan peserta didik. Karena dengan diskusi dan sharing dapat memberi kesempatan untuk peserta didik berkreasi terhadap gagasan, pendekatan, pengalaman dan pengetahuan serta dapat membentuk cara alternatif berpikir dan merasakan. Dan Juga agar peserta didik dapat menambah ilmu nya secara luas ,serta melatih individu atau peserta didik untuk berkomunikasi dengan baik. Menurut Rohmalina Wahab strategi pembelajaran interaktif adalah suatu cara atau teknik pembelajaran yang digunakan guru pada saat menyajikan bahan pelajaran, guru sebagai pemeran utama dalam menciptakan situasi interaktif yang edukatif, yaitu interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan dengan sumber. Diskusi kelas secara keseluruhan (satu kelas sebagai satu kelompok) pada umumnya kurang eksplisit dan lebih berpusat pada guru daripada strategi-strategi pembelajaran yang diuraikan di atas. 

     Strategi ini mungkin berupa petunjuk guru atau bimbingan kepada kelas diatur dengan rentangan dari formal ke informal, dengan guru memiliki peran dari dominan ke tidak dominan. Diskusi merupakan suatu percakapan dengan beberapa orang dengan suatu tujuan tertentu. Diskusi kelas ini memerlukan banyak keterampilan-keterampilan dan praktik. Apabila guru menyelenggarakan.diskusi keseluruhan kelas, guru harus dapat memusatkan secara jelas arah diskusi tersebut. Apabila menyimpang, arahkan pada jalurnya, dengan memusatkan kembali diskusi, meningkatkan partisipasi pebelajar dengan 
mendengarkan secara cermat semua sudut pandang yang dikemukakan. 

      Diskusi ini sering tersesat apabila kelas menyimpang dari tujuan utama 
diskusi. Jadi, guru perlu merencanakan pertanyaan-pertanyaan kunci untuk 
diskusi sehingga lebih mungkin untuk tetap berpusat pada tujuan. Sebelum memulai diskusi kelas secara keseluruhan, yakinkan bahwa pebelajar memiliki dasar pengetahuan yang cukup sebagai bekal diskusi. Diskusi tak dapat berjalan kalau pebelajar tidak banyak mengetahui tentang topik yang dibicarakan. Kadang-kadang diskusi digunakan sebelum pembelajaran sebagai suatu cara untuk membangkitkan minat pebelajar, tetapi informasi itu harus disajikan dalam waktu yang cukup. Jika digunakan secara tepat, diskusi dapat mendorong pebelajar berpikir kritis dan meningkatkan kemampuan pebelajar yang berprestasi rata-rata maupun yang kurang untuk berpartisipasi dalam proses belajar. Apabila diskusi digunakan dengan cara yang kurang benar, akan berakibat respons 
pebelajar rendah sehingga diskusi membosankan dan tidak mendorong pebelajar berpikir.

     Diskusi dapat digunakan untuk tujuan kognitif maupun afektif. Pada domain kognitif, diskusi dapat meningkatkan pebelajar untuk menganalisis ide-ide dan fakta-fakta dari suatu pelajaran dan mengkaji hubungan antarmateri yang diajarkan. Pada domain afektif, diskusi dapat meningkatkan kemampuan pebelajar untuk menguji pendapatnya, berinteraksi dengan teman dan mengevaluasi ide-ide teman lain, serta untuk mengembangkan 
keterampilan mendengarkan dengan baik. Apa pun tujuannya, diskusi harus direncanakan dengan baik dan pertanyaan kunci dinyatakan pada awal pembelajaran.

4. Strategi Pembelajaran Mandiri

   Strategi pembelajaran mandiri merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, peningkatan diri. Belajar mandiri juga bisa dilakukan dengan teman atau sebagai bagian dari kelompok kecil. Beberapa model pembelajaran mandiri yaitu : Model SAVI. Pembelajaran mandiri merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk membentuk inisiatif dari tiap individu, kemandirian, dan peningkatan diri. Sistem strategi ini berfokus pada perencanaan belajar mandiri oleh peserta didik namun tetap dengan bantu seorang guru. Maksud dari belajar mandiri ini dapat dilakukan dengan teman sebaya nya atau dibentuk menjadi bagian kelompok kecil. Pembelajaran mandiri adalah salah satu strategi pembelajaran dalam pendidikan kesetaraan yang dilakukan secara mandiri di luar pembelajaran tatap muka ataupun tutorial.

      Itulah beberapa bentuk dari klasifikasi strategi pembelajaran. Bukan hanya itu, dalam strategi pembelajaran juga terbagi beberapa bentuk setiap jajarannya. Seperti strategi pembelajaran langsung, strategi pembelajaran Inkuiri, Strategi pembelajaran Kooperatif, dan strategi pembelajaran menggunakan CTL (Contextual Teaching and Learning). 

Alhamdulillah Sudah Pada akhir tulis ini, Semoga Tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi diri saya pribadi. Karena tulisan ini sangat bermanfaat bagi kita sebagai calon guru ...Akhirul kalam Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh....