Rabu, 21 April 2021

Nama:Cholik Hermawan

Kelas:PAI 4A

Nim:11901038

Makul:MAGANG 1

Pertemuan:2


Sistem Evaluasi

        Evaluasi adalah penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Jadi, adanya evaluasi tersebut merupakan bentuk dari sebuah keberhasilan yang mana tujuannya telah ditetapkan dalam program tersebut. Adapun tujuan dari evaluasi salah satunya yaitu untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam kurun waktu proses blajar tertentu, untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar.

         Ada beberapa golongan fungsi dalam bentuk evaluasi ini diantaranya menurut wuradji fungsi evaluasi dibagi menjadi tiga, yaitu: fungsi evaluasi hasil belajar untuk kepentingan murid, fungsil evaluasi hasil belajar untuk kepentingan pendidik. Dan ragam-ragam evaluasi itu diantaranya pre-test dan post-test, evaluasi prasyarat, evaluasi diagnostik, evaluasi formatif, evaluasi sumatif, uan/un.

         Dalam bab ini saya akan memberikan penjelasan tentang materi-materi yang kami sampaikan diatas baik dalam segi pengertian ataupun dalam hal yang lainnya. Evaluasi secara bahasa diambil dari kata evaluation yang berarti penilaian.  Secara istilah evaluasi berarti penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Dalam pengertian lain evaluasi mempunyai padanan kata yaitu assessment di mana menurut Tardif (1989) evaluasi berarti proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai dengan kriteria yang telah ditentukan.

Tujuan evaluasi adalah sebagai berikut:

1.Untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam kurun waktu proses belajar tertentu.

2.Untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang siswa dalam kelompok kelasnya.

3.Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar.

4.Untuk mengetahui segala upaya siswa dalam mendayagunakan kapasitas kognitifnya untuk keperluan belajar.

5. Untuk mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode mengejar yang telah digunakan dalam proses kegiatan belajar mengajar.

6. Menurut UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pasal 38 (1) evaluasi bertujuan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.

Adapun fungsi dari evaluasi belajar, antara lain:

1.Fungsi administratif untuk penyusunan daftar nilai dan pengisian buku rapor.

2.Fungsi promosi untuk menetapkan kenaikan dan kelulusan.

3.Fungsi diagnostik untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa dan merencanakan program remedial teaching.

4.Sumber data BK untuk memasok data siswa tertentu yang memerlukan bimbingan dan konseling.

5.Bahan pertimbangan pengembangan pada masa yang akan datang meliputi pengembangan kurikulum, metode, dan alat-alat PMB.

Adapun Wuradji (1974) mengemukakan fungsi evaluasi ke dalam dua golongan yaitu:

1.Fungsi evaluasi hasil belajar untuk kepentingan murid

a. Untuk mengetahui kemajuan belajar

b.Dapat dipergunakan sebagai dorongan (motivasi) belajar

c. Untuk memberikan pengalaman dalam belajar.

2.Fungsi evaluasi hasil belajar untuk kepentingan pendidik

a.Untuk menyeleksi murid yang selanjutnya berguna untuk meramalkan keberhasilan studi berikutnya.

b. Untuk mengetahui sebab-sebab kesulitan belajar murid, yang selanjutnya berguna untuk memberikan bimbingan belajar kepada murid.

c.  Untuk pedoman mengajar

d. Untuk mengetahui ketepatan metode mengaiar.

e.  Untuk menempatkan murid dalam kelas (ranking, penjurusan, kelompok belajar dan lainnya).

C.    Ragam Evaluasi

1.  Pre-test dan Post-test

       Pre-test merupakan kegiatan evaluasi yang dilakukan sebelum memulai proses pembelajaran yang tujuannya adalah mengidentifikasi pengetahuan siswa terhadap materi yang akan disajikan.

        Post-test merupakan kegiatan evaluasi yang dilakukan guru pada akhir penyajian materi. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui taraf penguasaan siswa terhadap materi yang telah disajikan.

2.      Evaluasi Prasyarat

       Evaluasi ini sangat mirip dengan pre-test. Tujuannya adalah untuk mengindentifikasi penguasaan siswa terhadap materi lama yang mendasari materi baru yang akan diajarkan.

3.      Evaluasi Diagnostik

      Evaluasi ini dilakukan setelah selesai penyajian sebuah satuan pelajaran dengan tujuan mengidentifikasi bagian-bagian tertentu yang belum dikuasai siswa.

4.      Evaluasi Formatif

       Evaluasi jenis ini kurang lebih sama dengan ulangan yang dilakukan pada setiap akhir penyajian satuan pelajaran atau modul. Tujuannya adalah untuk memperoleh umpan balik yang mirip dengan evaluasi diagnostik. Hasil diagnosis kesulitan belajar tersebut digunakan sebagai bahan pertimbangan rekayasa pengajaran remedial.

5.      Evaluasi Sumatif

      Ragam penialaian ini kurang lebih sama dengan ulangan umum yang dilakukan untuk mengukur kinerja akademik atau prestasi belajar siswa pada akhir periode pelaksanaan pengajaran.

6.      UAN/UN

       UN (Ujian Nasional) merupakan kegiatanpengukuran capaian kompetensi lulusan pada mata pelajaran tertentusecara nasional dengan mengacu pada standar kompetensi lulusan. Evaluasi ini pada prinsipnya sama dengan evaluasi sumatif dalam arti sebagai alat penentu kenaikan status siswa.

D.    Ragam Alat Evaluasi

Secara umum, alat evaluasi terdiri atas dua macam bentuk, yaitu bentuk objektif dan bentuk subjektif.

1.      Bentuk Objektif

       Bentuk semacam ini bisa juga dikatakan dengan tes objektif, yakni tes yang dapat diberi skor atau nilai secara lugas menurut pedoman yang ditentukan sebelumnya. Ada lima macam tes yang termasuk dalam evaluasi ini, antara lain:

a.       Tes benar salah

b.      Tes pilihan ganda

c.       Tes pencocokan (menjodohkan)

d.      Tes isian

2.      Bentuk Subjektif

        Alat evaluasi subjektif adalah alat ukur prestasi belajar yang jawabannya tidak ternilai dengan skor atau angka pasti. Instrumen evaluasi mengambil bentuk essay examination, yakni siswa diharuskan menjawab setiap pertanyaan dengan cara menguraikan atau dalam bentuk karangan bebas.

E.     Evaluasi Prestasi Kognitif, Afektif, dan Psikomotor

1.      Evaluasi Prestasi Kognitif

       Evaluasi jenis ini dapat dilakukan dengan berbagai cara dari tes lisan, tulis, maupun perbuatan. Khusus untuk mengukur kemampuan analisis dan sintesis siswa, guru dapat menggunakan tes esai. Karena tes ini adalah satu-satunya ragam instrumen evaluasi yang paling tepat untuk mengevaluasi dua jenis kemampuan akal siswa di atas.

2.      Evaluasi Prestasi Afektif

      Evaluasi jenis ini dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasi kecenderungan sikap orang. Salah satu bentuk tes ranah rasa yang populer adalah “Skala Likert”. Bentuk skala ini menampung pendapatyang mencerminkan sikap  sangat setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan dangat tidak setuju.

      Hal yang perlu diingat oleh guru yang hendak menggunakan skala sikap ialah bahwa dalam evaluasi ranah rasa yang dicari bukan benar dan salah, melainkan sikap atau kecenderungan setuju atau tidak setuju.

3.      Evaluasi Prestasi Psikomotor

      Cara yang dipandang tepat untuk mengevaluasi keberhasilan belajar yang berdimensi ranah psikomotor adalah observasi. Observasi dalam hal ini dapat diartikan sebagai jenis tes mengenai tingkah laku, atau fenomena lain, dengan pengamatan langsung.

F. Prinsip-prinsip umum evaluasi

      Untuk memperoleh hasil evaluasi yang lebih baik,maka kegiatan evaluasi harus betitik tolak dari prinsip-prinsip umum sebagai berikut.

1.  Kontinuitas

       Evaluasi tidak boleh dilakukan dengan cara insidental karena pembelajaran itu sendiri adalah suatu proses yang kontinu. Oleh sebab itu ,evaluasi pun harus dilakukan secara kontinu.hasilevaluasi yang diperoleh pada suatu waktu harus senantiasa dihubungan dengan hasil-hasil pada waktu sebelumnya,sehingga dapat diperoleh gambaran yang jelas dan berarti tentang perkembangan peserta didik. Perkembangan belajar peserta didik tidak dapat dilihat dari dimensi produk saja,tetapi juga dimensi proses bahkan dari dimensi input.

2. Komprehensif

       Dalam melakukan evaluasi terhadap suatu objek,guru harus mengambil seluruh objek itu sebagai bahan evaluasi. Misalnya, jika objek evaluasi itu adalah peserta didik, maka seluruh aspek kepribadian peserta didik itu harus dievaluasi, baik yang menyangkut kognitif, afektif, maupun psikomotor, begitu juga dengan objek-objek evaluasi yang lain.

3. Adil dan objektif

        Dalam melaksanakan evaluasi, guru harus berlaku adil tanpa pilih kasih. Kata “adil” dan “objektif” memang mudah diucapkan, tetapi sulit dilaksanakan. Meskipun demikian, kewajiban manusia adalah harus berikhtiar. Semua peserta didik harus diberlakukan sama tanpa “pandang bulu“. Guru juga hendaknya bertindak secara objektif , apa  adanya sesuai dengan kemampuan peserta didik. Oleh sebab itu, sikap like and dislike, perasaan, keinginan, dan prasangka yang bersifat negative harus dijauhkan. Evaluasi harus berdasarkan atas kenyataan (data dan fakta) yang sebenarnya, bukan hasilmanipulasi atau rekayasa.

4. Kooperatif

       Dalam kegiatan evaluasi guru hendaknya bekerja ssama dengan semua pihak,seperti orang tua peserta didik,sesame guru,kepala sekolah, termasuk dengan peserta didikitu sendiri. Hal ini dimaksudkan agar semua pihak merasa puas dengan hasil evalusi, dan pihak-pihak tersebut merasa dihargai.

5. Praktis

       Praktis mengandung arti mudah digunakan, baik oleh guru itu sendiri yang menyusun alat evaluasi maupun orang lain yang akan menggunakan alat tersebut. Untuk itu harus diperhatikan bahasa dan petunjuk mengerjakan soal.

G. Jenis-jenis evaluasi pembelajaran

      Berikut ini beberapa bentuk evaluasi pembelajaran yang lazim dilakukan dalam kegiatan pembelajaran;

1. Evaluasi Formatif

       Evaluasi formatif seringkali diartikan sebagai kegiatan evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui sejauhmana suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Winkel menyatakan bahwa yang dimaksud evaluasi formatif  adalah penggunaan tes-tes selama proses pembelajaran yang masih berlangsung, agar siswa dan guru memperoleh informasi (feedback) mengenai kemajuan yang telah dicapai.

         Dari hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran siapa saja yang telah berhasil dan siapa yang dianggap belum berhasil untuk selanjutnya diambil tindakan-tindakan yang tepat. Tindak lanjut dari evaluasi ini adalah bagi para siswa yang belum berhasil, anak akan diberikan remidial. Sementara bagi siswa yang telah berhasil akan melanjutkan pada topik berikutnya, bahkan bagi mereka yang memiliki kemampuan yang lebih akan diberikan pengayaan, sehingga memungkinkan untuk mencapai standar yang lebih tinggi.

2.  Evaluasi Sumatif

        Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang di dalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya. Winkell mendefinisikan evaluasi sumatif sebagai penggunaan tes-tes pada akhir suatu periode pengajaran tertentu, yang meliputi beberapa atau semua unit pelajaran yang diajarkan dalam satu semester, bahkan setelah selesai pembahasan suatu bidang studi.

3. Diagnotik

        Evaluasi diagnotik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada siswa, sehingga dapat diberikan  perlakuan yang tepat. Evaluasi diagnotik dapat dilakukan dalam beberapa tahapan, baik pada tahap awal, selama proses, maupun akhir pembelajaran.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar